opini

Bagaimana Sebaiknya Kita Berpuasa

2 Mins read

Sejarah mencatat bahwa dalam peristiwa Perang Badar Rasulullah dan para sahabat kalah dalam jumlah. Rasulullah bersama para sahabat berjumlah 313 orang bertempur menghadapi pasukan musyrik Quraisy dari Makkah yang berjumlah 1.000 orang. Peristiwa tersebut terjadi pada bulan Ramadan dan kaum muslim saat itu sedang menjalankan ibadah puasa. Setelah berhasil menghancurkan barisan pertahanan pasukan musyrik Quraisy, Rasulullah bersama para sahabatnya kembali ke Madinah dengan membawa anugerah kemenangan dan membawa berbagai harta rampasan dan tawanan perang. Tercatat setidaknya ada sekitar tujuh puluh tawanan perang yang dibawa Rasulullah ke Madinah saat itu.

Sesampainya di Madinah, Rasulullah bermusyawarah dengan para sahabat perihal apa yang harus dilakukan kepada tawanan ini. Abu Bakar berpendapat jika alangkah baiknya mereka dibiarkan hidup dan diajak untuk masuk Islam. “Bukankah mereka juga adalah kaummu dan keluargamu,” kata Abu Bakar. Berbeda dengan Abu Bakar, Umar bin Khattab berpendapat agar mereka semua diadili dan dipenggal. “Karena mereka telah mengusirmu dari tanah kelahiranmu,” ucapnya. Lebih dari apa yang diusulkan oleh Umar, Abdullah bin Rawahah bahkan menyarankan kepada Rasulullah untuk membakar hidup-hidup mereka.

Singkat cerita, Rasulullah memutuskan untuk berlaku proporsional dalam memperlakukan para tawanan. Mayoritas dari mereka mendapatkan pengampunan. Syaratnya, mereka membayar tebusan dan mengajarkan baca tulis kepada anak-anak Muslim. Namun, ada dua tawanan yang dieksekusi hukum mati. Selain itu, para sahabat diperintahkan oleh Rasulullah untuk merawat mereka dengan sebaik-baiknya. Bahkan dari kesaksian para tawanan, jamuan dan perawatan yang dilakukan oleh kaum Muslim kepada mereka telah mengetuk sebagian dari hati mereka untuk memeluk Islam.

Inilah Rasul Pembawa Rahmat

Hikmah dari penggalan kisah Badar tersebut menunjukkan ajaran kasih sayang dan rahmat yang dimiliki oleh Rasulullah adalah ajaran Islam yang sejati. Kerahmatan dalam pribadi Rasulullah adalah cerminan luhur dari leluhur-leluhur yang mulia. Sikap tersebut terpatri dari kakek beliau, Nabi Ibrahim.

Baca Juga  Filantropi Islam, Saling Bantu ala Rasulallah

Tengoklah bagaimana kelembutan sikap Ibrahim. kepada ayahandanya (Q.S. Maryam: 41-47). Dan ingatlah bahwa kehadiran Rasulullah di muka bumi ini adalah berkat doa yang dipanjatkan oleh Ibrahim  dan Ismail. (Q.S. al-Baqarah: 129). Bahkan, Rasulullah sendiri berkata dalam sebuah riwayat: aku adalah doa ayahku, Ibrahim, dan kabar bahagianya Isa.

Sisi kerahmatan Rasulullah ini pula dipertegas dengan firman Allah dalam Q.S. al-Anbiya’: 107, “dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. Sebuah Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim disebutkan pula bahwa, Sesungguhnya saya (Muhammad) tidak diutus sebagai pemberi laknat, tapi saya diutus untuk memberi rahmat.

Kerahmatan tersebut tidak hanya terekam dalam catatan kehebatan Rasulullah. Namun, hal tersebut juga terwujud pada hal-hal yang remeh dan ringan. Seperti dalam riwayat,  saat itu Abu Barzah bertanya kepada Rasulullah tentang ilmu yang bermanfaat bagi dirinya. Kemudian Rasulullah menjawabnya: singkirkanlah sesuatu yang ada di jalan sehingga dapat menyakiti orang ketika melewatinya. Meskipun terlihat remeh, hal ini Rasulullah jadikan sebagai bagian dari indikator keimanan kita.

Apa yang penting bagi kita yang berpuasa

Kerahmatan Rasulullah yang diwujudkan dalam berbagai sikap dan perilakunya tersebut seharusnya menjadi cermin dan pondasi keberagamaan kita. Saat ini, tampak sekali semangat keberagamaan itu bisa dirasakan serta atribusi-atribusi kesalehan tampak dimana-mana. Apalagi dalam suasana hangatnya Ramadan seperti sekarang ini. Sudah pasti setiap muslim akan berkompetisi dalam kebaikan. Namun, kita masih banyak melihat semangat keberagamaan tersebut tidak dibarengi dengan semangat untuk memahami agama dengan bijak nan santun.

Ramadan seperti saat ini seharusnya dijadikan sebagai madrasah bagi kita untuk menyebarkan kerahmatan dan keramahan kepada yang lain. Puasa yang kita jalankan saat ini seharusnya menjadi pelajaran bahwa rasa dahaga dan haus yang dirasakan, seharusnya mampu membawa kesadaran rasa kasih dan empati. Kepedulian adalah tugas kita bersama. Kita berpuasa bukanlah untuk dihormati dan dirahmati oleh yang lain, melainkan kitalah yang seharusnya merahmati dan menghormati yang lain. Sebagaimana Rasulullah dan para sahabat yang memuliakan tawanan perang Badar kala itu. Bukankah Ramadan bermakna membakar? Membakar diri dari ketamakan, egoisme, dan keakuan diri, menuju pada pribadi yang ramah dan rahmah kepada yang lain. wa Allahu a’lam bish showab

Komentar
1 posts

About author
Dosen Fakultas Ushuluddin dan Humanioran UIN Walisongo Semarang, Pengurus Pusat IKSAB.
Articles
Related posts
Kolomopini

Kehidupan Muslim di Changchun: Harmoni Iman dan Budaya di Tengah Musim Dingin

2 Mins read
Dibaca: 423 Kota Changchun, Provinsi Jilin, Tiongkok, menawarkan studi kasus yang unik tentang kehidupan komunitas Muslim di lingkungan yang secara geografis dan…
aswajaKolomopinipesantren

Pesantren Salaf di Era Globalisasi dan Kemajuan Teknologi AI

2 Mins read
Dibaca: 889 Pesantren salaf, dengan tradisi pengajarannya yang kental akan nilai-nilai keislaman klasik, kini berdiri di persimpangan jalan. Era globalisasi, dengan arus…
KolomNasionalopini

Kritik atas Tafsir Tunggal Aparat: Membaca Kasus Mahasiswi ITB

5 Mins read
Dibaca: 335 Penangkapan seorang mahasiswi ITB akibat unggahan meme Prabowo dan Jokowi yang digambarkan sedang berciuman telah memicu perdebatan luas di ruang…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *