opini

Ramadan di Australia; Toleransi Terasa Indah Ketika Kita Menjadi Minoritas

2 Mins read

Bulan Ramadan di Indonesia, mungkin bulan yang mempunyai nuansa berbeda dibanding bulan-bulan lainnya. Kumandang bacaan tarhim menjelang imsak, berbagai pertanda imsak dan iftar, ngabuburit, tarawih dan witir sampai lantunan tadarus al-Qur’an. Tidak ketinggalan pula acara reuni yang dibalut dengan berbuka bersama sampai berbagai pengajian yang diampu oleh para romo kiai. Nuansa-nuansa dan kekhasan inilah yang menggugah rasa rindu mendalam pada kampung halaman di bulan Ramadan.

Namun demikian, berpuasa di negara lain dimana Islam menjadi agama minoritas seperti di Australia mendatangkan suatu pengalaman berbeda. Bahkan, kita sadar bahwa ketika nilai-nilai toleransi dijunjung tinggi, menjadi minoritas bukanlah suatu hal yang membuat kita merasa termarjinalkan. Saya merasa diperlakukan secara spesial oleh mereka. Keindahan toleransi begitu sangat terasa ketika kita menjadi minoritas.

Australia merupakan negara dengan mayoritas warganya beragama Kristen. Berdasarkan data sensus terakhir, 52,1% warga Australia beragama Kristen dan hanya 2,6% warganya beragama Islam. Oleh karenanya, pengalaman berpuasa di negara ini mendatangkan tantangan-tantangan yang mungkin kita jarang temukan di Indonesia.

Suasana Ramadan di Australia sangat berbeda dengan di Indonesia. Jangankan suara penanda imsak dan iftar, suara adzan pun hanya bisa didengar melalui smartphone pribadi masing-masing. Suasana kampus Monash, dimana saya menempuh pendidikan pun sama dengan hari-hari biasanya. Tidak ada hal signifikan yang berbeda. Semua kantin masih buka (tanpa gorden) dan  para mahasiswa serta dosen makan dan minum di sudut-sudut kampus, bahkan di kelas, seperti hari-hari biasa.

Beberapa komunitas atau organisasi-organisasi di Monash pun masih sangat aktif menjalankan program-programnya. Seperti acara live music, off-campus trip, dan bahkan ada yang bagi-bagi makan siang gratis (free lunch).

Baca Juga  Populisme yang Memonopoli Kebenaran

Meskipun demikian, bukan berarti warga Australia tidak tahu sama sekali tentang kewajiban  berpuasa bagi muslim. Beberapa kawan sekelas dan dosen bahkan mengucapkan selamat berpuasa langsung pada saya. Media sosial kampus pun dipenuhi dengan berbagai ucapan selamat berpuasa pada segenap civitas akademik Monash yang beragama Islam. Bahkan ketika waktu kuliah berbarengan dengan waktu berbuka, beberapa dosen dengan terbuka menawarkan waktu istirahat ditengah perkuliahan untuk berbuka dan makan malam.

Selama saya tinggal, saya mengikuti beberapa komunitas seperti MUIS (Monash University Islamic Society), MIIS (Monash Indonesian Islamic Society), DDM (Do’a dan Dzikir Melbourne) dan PCI NU Australia-New Zealand. Di bulan puasa, mereka biasanya mengadakan acara buka bersama, kajian-kajian keislaman, dan khataman al-Quran. Inilah yang membuat nuansa bulan Ramadan di Monash terasa tidak jauh berbeda dengan di Indonesia.

Sebagai negara yang memiliki empat musim, yakni musim panas (Desember-Februari), gugur (Maret-Mei), dingin (Juni-Agustus) dan semi (September-November), durasi waktu berpuasa di Australia sangat bergantung pada musim yang sedang berlangsung. Ketika musim dingin, waktu malam menjadi lebih panjang sehingga puasa yang dilakukan di siang hari menjadi lebih pendek. Sebaliknya, apabila puasa jatuh pada musim panas, waktu malam menjadi lebih pendek sehingga durasi waktu puasa di siang hari pun menjadi lebih panjang.

Di musim panas, waktu subuh diperkirakan sekitar pukul 4 pagi, dan waktu magrib, sekitar pukul 9 malam. Akumulasi lamanya jam puasa pada musim panas, bisa sampai 18 jam. Hal tersebut ditambah dengan terik matahari yang bisa mencapai 40 derajat celsius. Bisa dibayangkan apabila bulan puasa jatuh pada musim panas. Tantangannya akan semakin berat. Pada tahun 2021 ini, alhamdulillah bulan Ramadan jatuh pada musim gugur dimana waktu siang dan malam cenderung kurang lebih hampir sama dengan waktu di Indonesia. Durasi waktu puasa pada musim ini rata-rata 12 jam dari Shubuh sekitar pukul 05.30 AEST sampai Maghrib sekitar pukul 17.30 AEST. Berpuasa pun menjadi terasa lebih ringan karena pada musim gugur cuaca cenderung sejuk dan sinar matahari tidak begitu terik.

Baca Juga  Mengapa Manusia Berpuasa?

Baca artikel menarik lainnya disini.

Komentar
1 posts

About author
IKSAB TBS 2011, Saat ini sedang menjalani studi Magister di Monash University.
Articles
Related posts
Kolomopini

Kehidupan Muslim di Changchun: Harmoni Iman dan Budaya di Tengah Musim Dingin

2 Mins read
Dibaca: 496 Kota Changchun, Provinsi Jilin, Tiongkok, menawarkan studi kasus yang unik tentang kehidupan komunitas Muslim di lingkungan yang secara geografis dan…
aswajaKolomopinipesantren

Pesantren Salaf di Era Globalisasi dan Kemajuan Teknologi AI

2 Mins read
Dibaca: 1,163 Pesantren salaf, dengan tradisi pengajarannya yang kental akan nilai-nilai keislaman klasik, kini berdiri di persimpangan jalan. Era globalisasi, dengan arus…
KolomNasionalopini

Kritik atas Tafsir Tunggal Aparat: Membaca Kasus Mahasiswi ITB

5 Mins read
Dibaca: 388 Penangkapan seorang mahasiswi ITB akibat unggahan meme Prabowo dan Jokowi yang digambarkan sedang berciuman telah memicu perdebatan luas di ruang…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *