beritainfoNasionalNU

Santri Menara Berduka atas Wafatnya KH Mas Subadar

1 Mins read

SANTRIMENARA.COM, PASURUAN – Tim Redaksi SantriMenara.Com turut berduka cita atas wafatnya KH. Muhammad bin KH. Subadar, Rois Syuriah PBNU dan Pengasuh PP. Raudlatul Ulum, Besuk, Pasuruan Jawa TimurSabtu, 26 Syawwal 1437 H, pukul 19.41 WIB di Pasuruan Jawa Timur.

KH Mas Subadar adalah salah seorang Rais Syuriah PBNU ini sangat dikenal di kalangan jam’iyyah umat Islam terbesar di Indonesia ini. Ia sering mengemban tugas-tugas khusus di organisasi tersebut.

Di forum kiai, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Besuk, Pasuruan, Jawa Timur sering ditunjuk sebagai juru bicara. Sikapnya yang teguh dan senantiasa berpegang teguh pada koridor kajian fiqh klasik itulah yang menyebabkan sering dilibatkan dalam bahstul masa’il  yang diselenggarakan NU.

Tutur katanya juga halus, argumentatif, dan mampu menyesuaikan diri dengan bahasa masyarakat yang dihadapi. Ini membuat masyarakat di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur sering mendatangi pengajian yang diisinya. Mereka tertegun menyimak ceramah dan orasinya.

Ia lahir pada 1942 di sebuah desa Besuk, Kejayan, Pasuruan dari pasangan KH Subadar dan Hj. Maimunah. Pada usia 3 bulan (1942), ia telah yatim karena ditinggal wafat sang ayahanda, KH Subadar. Sehingga ia banyak belajar mandiri dengan diasuh oleh ibundanya yakni Hj Maimunah.

Kiai tersebut sangat mengidolakan sosok ibundanya. Baginya, Hj Maimunah adalah sosok panutan. Sebab melalui sentuhan lembut dan tangan dingin sang ibunda, ia menjadi pribadi yang mandiri dan tegar dalam menatap tantangan jaman.

Ia dididik lingkungan keluarga yang sarat religius. Termasuk belajar pada kakak-kakaknya seperti KH Ali Murtadlo dan KH Ahmad di Pondok Pesantren Besuk, Pasuruan. Di Pesantren Lirboyo, Kediri, KH M Subadar menemukan tempat belajar yang sesungguhnya. Hari-hari di pondok, dihabiskan untuk mengaji dan belajar berbagai cabang keilmuan.

Di organisasi NU pada tahun 1967 ia mulai berkiprah. Mula-mula ia aktif di IPNU, dua tahun kemudian namanya langsung mencuat sebagai ketua GP Anshor Pasuruan.

Aktivitasnya di organisasi sempat terhenti setelah menikahi Aisyah pada tahun 1969. Baru pada kisaran 1976, kembali terjun dalam kegiatan organisasi dan sekaligus mengemudikan kepemimpinan Pesantren Raudhotul Ulum. Pada tahun 1980, ia terpilih sebagai Rois Syuri’ah NU Cabang Pasuruan dan kemudian menjabat sebagai Wakil Rais Syuri’ah NU Jawa Timur.

Semoga amal ibadah beliau diterima Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan. Amin (smc-777)

Source: NU Online

 

Related posts
berita

Rais 'Aam Ajak Respons Revolusi Industri dengan Langkah Besar dan Terukur

2 Mins read
Rais ‘Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Miftachul Akhyar mengingatkan, saat ini, dunia telah memasuki era Revolusi Industri 4.0. Ia mengajak…
berita

Mencegah Kemungkaran Sesuai Porsi

2 Mins read
Memang benar, kemungkaran ataupun kedholiman merupakan hal yang tidak baik, keduanya merupakan hal yang dilarang dalam agama kita diperintahkan agar kita menjauhinya….
berita

Kenalan dengan Abu Bakar, Sahabat Paling Setia Nabi yang Dijamin Masuk Surga!

2 Mins read
Pernahkah kamu membayangkan punya sahabat yang selalu ada di sampingmu, bahkan saat keadaan paling berbahaya sekalipun? Sahabat yang rela menyerahkan segalanya, hanya…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *