opini

Ramadan Jalan Kebahagiaan

2 Mins read

Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung setahun lebih. Akibatnya telah berdampak krisis di berbagai dimensi. Bukan hanya virus yang mewabah, begitu juga kepanikan. Panic Buying menjadi sifat yang sulit untuk dibendung. Disisi lain, taraf ekonomi dan pendapatan terus merosot.

Kebahagiaan juga sebenarnya bukan diukur dari materi yang berada. Badan Pusat Statistik (BPS) pernah melansir indeks kebahagiaan penduduk di Indonesia. Jakarta, sebagai kota paling maju di Indonesia, angka kebahagiaan penduduknya hanya 69,21 dari skala 100. Angka ini berada di bawah Provinsi Riau 72,42, lalu Maluku 72,12,  dan disusul Kalimantan Timur 71,46.

Ada sepuluh indikator kebahagiaan yang dikelompokkan dalam dua dimensi: Pertama, Dimensi materi, meliputi tiga aspek: pekerjaan, pendapatan rumah tangga dan kondisi  rumah dan aset: Kedua, Dimensi non-materi, meliputi tujuh aspek: pendidikan, kesehatan, keharmonisan keluarga, hubungan sosial, ketersediaan waktu luang, keadaan lingkungan dan keamanan.

Jakarta, dengan kemajuan perputaran ekonomi yang tinggi, ternyata tidak serta merta membuat penduduknya merasa bahagia. Artinya bahwa kebahagiaan tidak melulu dilihat dari dimensi materi. Kekayaan materi yang sebenarnya bukan menjadi sumber utama kebahagiaan, selama ini membuat manusia membabibuta. Kiai Ahmad Musthofa Bisri atau Gus Mus, menyebut fenomena ini sebagai “negeri daging” sekaligus menjadi judul buku yang terbit pertama kali pada tahun 2002.

Konsep Bahagia

Dari data BPS tersebut, memang sebagian aspek kebahagian bersumber dari kekayaan materi. Sebagaimana yang terjadi di Jakarta, dengan jutaan manusia yang setiap harinya hanya mengejar kekayaan materi, tetapi angka kebahagiaannya masih sedikit. Aristoteles menyebutkan bahwa kebahagiaan bisa diperoleh melalui lima kelompok. Pertama, kebahagian yang terdapat pada kondisi sehat badan dan kelembutan indrawi. Kedua, kebahagiaan karena mempunyai sahabat. Ketiga, kebahagiaan karena mempunyai nama baik dan populer. Keempat, kebahagiaan karena sukses dalam berbagai hal. Kelima, kebahagiaan karena mempunyai pola pikir yang benar dan punya keyakinan yang mantap. Dalam perspektif tersebut bahagia pada dasarnya berkaitan dengan kondisi kejiwaan manusia.

Baca Juga  Selamat Jalan Kiai Dzi, Sang Kiai Penjaga Tradisi

Menurut Al-Ghazaly  kunci kebahagiaan lebih menekankan pentingnya arti cinta kepada Allah. Pengetahuan tentang Tuhan merupakan kunci untuk mencintai Allah. Tidak akan lahir cinta kalau tidak kenal dan tidak merasakan indahnya berinteraksi dengan sesuatu yang dicintainya.

Menurut al-Qur’an jalan kebahagiaan bisa diraih melalui dua jalur yaitu ilmu dan amal. Orang yang berilmu akan ditinggikan derajatnya sehingga kebahagiaan bisa diraih (QS. Al-Mujadilah : 11). Hal ini juga seperti kisah Nabi Sulaiman AS ketika dimanjakan oleh Allah diminta memilih ilmu, harta atau tahta. Karena beliau memilih ilmu, akhirnya mendapatkan ketiganya sehingga kebahagian diraihnya.

Kebahagiaan juga bisa dilalui melalui jalur amal sholeh sebagai buah dari ilmu. Amal sholeh merupakan mata rantai dari keimanan dan bagi yang melaksanakannya akan memperoleh kebahagiaan, baik itu pria maupun wanita (QS. An-Nahl : 97)

Dapat dipahami bahwa kebahagian lebih banyak ditentukan oleh aspek non-materi alias dimensi jiwa (ruhaniah), dimensi materi sedikit ikut menentukan.  Ibadah puasa adalah ritual ibadah menekankan aspek ruhaniah. Sampai dalam hadits Qudsy: “Puasa untuk-Ku (Allah) dan Aku yang akan membalasnya” (Al-Hadis)”.

Spesialnya lagi bagi yang berpuasa  akan mendapatkan jalur khusus masuk Surga melalui pintu Rayyan (Al-Hadist). Dimana Surga adalah ruang kebahagian hakiki, tidak bisa ditandingi dengan kebahagian selama di dunia.  Dengan berpuasalah, manusia akan terasah kecerdasan empatinya sehingga bisa menumbuhkan rasa kasih sayang kepada sesama umat manusia untuk beramal saleh.  Maka begitu kita berbagi kebaikan kepada orang lain, maka kebagian akan langsung terasa  di dunia dan Surga adalah imbalannya. Wallahu a’lam.

Baca artikel lainnya disini, atau telusuri hal menarik lainnya.

Komentar
3 posts

About author
Ketua PP IKSAB TBS 2016-2020, Dosen IAIN Kudus
Articles
Related posts
Kolomopini

Kehidupan Muslim di Changchun: Harmoni Iman dan Budaya di Tengah Musim Dingin

2 Mins read
Dibaca: 364 Kota Changchun, Provinsi Jilin, Tiongkok, menawarkan studi kasus yang unik tentang kehidupan komunitas Muslim di lingkungan yang secara geografis dan…
aswajaKolomopinipesantren

Pesantren Salaf di Era Globalisasi dan Kemajuan Teknologi AI

2 Mins read
Dibaca: 624 Pesantren salaf, dengan tradisi pengajarannya yang kental akan nilai-nilai keislaman klasik, kini berdiri di persimpangan jalan. Era globalisasi, dengan arus…
KolomNasionalopini

Kritik atas Tafsir Tunggal Aparat: Membaca Kasus Mahasiswi ITB

5 Mins read
Dibaca: 296 Penangkapan seorang mahasiswi ITB akibat unggahan meme Prabowo dan Jokowi yang digambarkan sedang berciuman telah memicu perdebatan luas di ruang…

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *